Jumat, 25 Januari 2013

SEKATEN

Aku menarik-narik tangan mama yang berjalan santai di belakangku.
 “Ayo dong, Ma, ke situ !” seruku seraya menunjuk sebuah bangunan terbuka yang dipadati banyak orang.
 Sayup-sayup terdengar  alunan musik gamelan dari dalam bangunan itu. Aku dan mama pun berjalan mendekat. Leherku menjulur-julur karena ingin melihat para niyaga yang memainkan gamelan itu. Tetapi percuma saja, aku menjulur-julur sampai seratus kali pun tak akan berhasil. Karena tempat itu dipadati banyak orang yang berdesak-desakan dengan jarak rapat-rapat. Jadi tak ada sedikitpun celah yang terbentuk dari kerumunan orang-orang tersebut. Huuuhhh….

Selasa, 15 Januari 2013

SEPEDA BARU SHEILA


Breeemmm.... Terdengar suara mesin mobil yang semakin lama semakin keras saja. Aku melihat keluar jendela rumahku. Ada sebuah mobil yang berhenti di depan rumahku. Lebih tepatnya di depan rumah Sheila. Mobil truck itu membawa dua buah sepeda baru, yang satu berwarna kuning, dan yang satunya lagi berwarna hitam kelam.
“Sepeda baru, ya, Sheil?” tanyaku pada Sheila yang tiba-tiba saja muncul.
“Hehe, bagus, kan?” tanya Sheila balik sambil meringis.
“Sepeda kamu yang mana?” tanyaku lagi.
“Oh, itu, yang hitam!” Sheila menunjuk ke arah sepeda hitam itu.
“Itu sepeda cowok, kan, Mbak?” sekarang ganti Hasna yang bertanya.
“Ya, enggak apa-apa, kan, Has?” kata Sheila lagi.
Pak Puntjak, ayahnya Sheila keluar dari mobil dan bergegas mengangkut sepeda itu ke bawah. Begitu pula sepeda kuning, milik Happy, kakak Sheila.