Senin, 25 Juni 2012

AKU, DOKTER HEWAN, DAN RUMAH PENAMPUNGAN


Kalau besar nanti aku mau jadi apa, ya? Jadi … presiden! Ah, terlalu sibuk. Jadi … pelukis professional! Mmhhh … kok sepertinya terlalu santai, ya? Terus … jadi apa, dong? Barangkali … jadi dokter! Hmmm … cocok nggak, ya? Tapi dokter apa? Masa dokter hewan, sih? Tapi kalau dipikir-pikir, aku kan suka binatang. Asyik kali, ya, jadi dokter hewan? Okey deh, aku mau jadi dokter hewan aja!

Seandainya aku menjadi dokter hewan, apa ya yang akan aku lakukan? Yang jelas aku akan menyembuhkan semua hewan yang sakit, tanpa kecuali. Hewan apapun akan aku sembuhkan, sekalipun hewan itu adalah anjing. Walaupun dia seekor anjing, tak ada salahnya kan?

Kalau aku menjadi dokter hewan, aku akan memungut semua hewan terlantar. Aku akan memberi mereka makan supaya mereka tidak kelaparan. Contohnya seperti di kompleks rumahku, banyak sekali kucing terlantar yang tidak punya keluarga. Badan mereka kotor dan kurus kering. Mereka suka mengorek-ngorek sampah mencari makan. Kasihan kan?

Lalu aku akan memelihara mereka di rumah khusus, semacam rumah penampungan hewan. RPH (Rumah Penampungan Hewan) itu akan kubangun di atas tanah seluas 1 hektar. Tapi … dari mana uangnya ya ..? Tanah 1 hektar itu kan pasti mahal banget, belum biaya membangun RPH-nya. Waaah … berarti aku harus bekerja keras untuk mengumpulkan uang yang banyak. Setelah uangku terkumpul banyak, barulah aku membeli tanah dan membangun rumah penampungan hewan itu. 

Bicara tentang rumah penampungan hewan. Rumah itu nanti akan dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas yang nyaman serta hemat energi. Misalnya listriknya memakai sumber energi sinar matahari atau tenaga surya. Di sana mereka akan kuberi makan dan minum serta hal-hal yang bisa menyenangkan hati mereka. Di sana pula mereka akan dilatih. Mereka akan dilatih sopan santun, disiplin, dan kebiasaan-kebiasaan baik lainnya, agar mereka menjadi hewan penurut.

Siapapun yang ingin mengadopsi hewan, boleh mengambil di RPH-ku. Namun hanya hewan-hewan tertentu saja yang boleh diadopsi. Seperti kucing, anjing, kelinci, dan hewan-hewan peliharaan lainnya. Sedangkan hewan yang tidak boleh diambil adalah hewan-hewan yang nantinya akan dilepas kembali ke alam bebas maupun hewan-hewan langka yang dilindungi.

Aku juga akan membuat suatu tempat pengembangbiakan hewan-hewan langka agar mereka tidak punah. Tetapi tentu saja mereka nantinya akan dilepaskan kembali ke alam bebas. Selain itu, aku akan ikut aktif mencegah penyelundupan hewan-hewan yang dilindungi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Kemudian hewan itu akan dikembalikan ke habitat aslinya. Contohnya orangutan Kalimantan yang sering diselundupkan ke luar negeri. Orangutan itu nantinya akan dikembalikan ke habitat aslinya, yaitu di hutan Kalimantan.

Kalau ada yang mau membeli hewan langka di RPH-ku untuk diekspor ke luar negeri, aku tidak segan-segan untuk melaporkannya ke polisi setempat agar dia diberi hukuman yang setimpal dengan ulahnya, yaitu percobaan menyuap. Lho, kenapa? Di RPH-ku … tidak ada yang membeli hewan, tetapi mengadopsi, mengambil. Mengambil bukan membeli. Kalau ada urusan dengan uang, pasti niat orang itu adalah menyuapku. Sebel deh, sama orang seperti itu.

Back to the story

Untuk hewan yang rindu pada hutan, di halaman belakang RPH-ku akan kubuat semacam hutan. Di dalam hutan buatan itu, kubuat juga sungai yang airnya mengalir jernih. Aku juga akan membuat padang rumput yang luas lengkap dengan danaunya untuk tempat bermain sekaligus tempat kejar-kejaran para hewan. Semua itu akan kubuat semirip mungkin seperti alam bebas! Selain menjadi dokter hewan, aku kan juga mau jadi arsitek. Arsitek buat para hewan! He he he. Maksudnya membuat rumah atau kandang yang indah dan nyaman buat para hewan! 

Tak lupa, setiap hari mereka akan kumandikan. Agar mereka tetap bersih, segar dan wangi. Eh, tapi … nggak semua hewan mau dimandikan, lho! Contohnya aja kelinci. Aku punya cerita, nih. Aku kan punya teman yang bernama Eca. Nama lengkapnya sih, Hanifah El Sandy. Tetapi aku biasa memanggilnya Eca. Suatu hari mamanya memberi dia hadiah seekor kelinci yang lucu sekali. Kelinci itu berwarna putiiiih bersih. Setiap hari ia selalu memberi makan kelincinya itu. Saking senangnya dia pada kelinci itu, suatu hari ia memandikan kelincinya itu. Keesokan harinya, eh, kelincinya mati. Eca sangat bersedih, dia tidak mengerti kenapa kelincinya bisa mati.

Jadi, memberi makan dan memandikan hewan itu tidak boleh sembarangan alias tidak boleh ngawur atau semaunya sendiri. Aku harus tahu ilmu atau cara memeliharanya. Apalagi untuk menjadi seorang dokter hewan. Aku juga baru tahu … he he he.

Asyik deh, jadi dokter hewan. Bisa mempelajari cara merawat, mengobati, dan menyembuhkan berbagai macam hewan. Jadi menurutku, jadi dokter hewan itu adalah pekerjaan yang mulia. 

Kalau aku menjadi dokter hewan, aku berjanji akan menjadi dokter hewan yang baik, akan menjadi dokter hewan yang bertanggung jawab, dan menjadi dokter hewan yang disiplin. Selain itu aku berjanji akan menjadi dokter hewan yang jujur. Maksudnya, aku tidak akan memberi obat yang harganya sangat mahal, padahal sebetulnya ada obat lain yang bisa dibeli dengan harga yang murah.

Namun, semua itu nggak bisa tercapai dengan mudah tanpa disiplin, belajar, dan berdoa. Dengan belajar giat yang disertai doa, insyaallah apa yang kita cita-citakan akan tercapai. Amin …. 

Begitupun aku. Untuk bisa menjadi dokter hewan aku harus selalu disiplin dalam belajar. Dan juga … sholat dan berdoa tentunya!! Doakan aku supaya bisa menjadi dokter hewan, ya, teman-teman!

Nah, teman ..., begitulah cerita tentang cita-citaku. Bagaimana denganmu? Coba ceritakan!

4 komentar:

  1. Bagus kak!

    Janitra Putri

    BalasHapus
  2. nice to be here
    feel free to visit my blog , merci ! ;)


    best regards,

    http://haddadlove.blogspot.com/

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks, magnoliza b! I've visited your blog and It's so inspiring! Please enjoy my blog :D

      Hapus